Jumat, 20 Maret 2009

Analisis Upacara Ngaben Massal

oleh : Nia Atmadianing Meigawati

Manajemen, S1

Universitas Negeri Semarang


Upacara Ngaben Massal Diikuti 53 Keluarga Meninggal

Upacara Ngaben manusia Yadnya (pembakaran mayat) bagi umat Hindu adalah salah satu ajaran Agama Hindu yang termasuk dalam upacara Panca Yadnya. Ngaben juga diartikan korban suci terhadap leluhur yang meninggal dunia.

Upacara sakral tersebut dilaksanakan secara masal di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Rabu (10/9) yang diikuti sebanyak 53 keluarga yang meninggal dari berbagai daerah. Seperti Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Lubuk Linggau, Tulangbawang (Tuba), Lampung Timur (Lamtim), Kecamatan Ketapang dan Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji.

Dari 53 keluarga yang meninggal, 41 diantaranya adalah warga dari Desa Balinuraga dan sisanya 12 keluarga dari luar daerah, kata koordinator pelaksanaan Ngaben masal, Guru Sudiartana, kemarin.

Menurut Guru Sudiartana, upacara Ngaben masal di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji dilaksanakan hampir setiap tahun. Ngaben masal sendiri untuk menghemat biaya yang dikeluarkan dari masing-masing keluarga yang kurang mampu. Upacara Ngaben dapat dilaksanakan secara tersendiri yang dilakukan masing-masing keluarga, tapi karena keterbatasan dana maka dapat dilaksanakan upacara Ngaben secara masal, ungkap Guru Sudiartana.

Ngaben masal yang diikuti 53 keluarga yang meninggal tersebut dibuatkan 16 bale tajuk bagi roh keluarga yang akan dibakar. Persiapan untuk pelaksanaan ngaben masal sudah dilakukan sejak 2 minggu terkahir yakni membuat bale tajuk bagi jasad yang akan dibakar. Pembuatan bale tajuk itu butuh waktu yang cukup lama, katanya.

Pelaksanaan upacara Ngaben masal di Desa Balinuraga dipimpin langsung Mangku Puniatmaja dari desa setempat mulai dari awal upacara hingga akhir.

Mangku Puniatmaja menjelaskan, langkah atau tahapan pelaksanaan upacara Ngaben bagi umat Hindu di antaranya, melakukan pembersihan jenazah dengan cara dimandikan air bersih yang dicampur dengan bunga-bunga. Setelah itu mayat dibungkus dengan kain putih, lalu di tempatkan pada wadah yang dikenal dengan Jempana yang disiapkan oleh warga setempat, setelah itu jenazah dibawa diarak menuju makam tempat pembakaran mayat.

Setelah dilakukan pembakaran mayat, selanjutnya abu dari hasil pembakaran dihanyutkan ke laut atau sungai sehingga tidak ada lagi sisa-sisa unsur badan kasar karena sudah dikembalikan ke asalnya (Panca Maha Bhuta),? katanya.

Proses terakhir dari pada rangkaian upacara ngaben itu adalah dibuatkan tempat bagi arwah (Atman) dan diletakkan pada pura masing-masing keluarga. ?Akhir upacara Ngaben itu adalah, penempatan sang Atman di pura-pura keluarga besar masing-masing untuk didoakan bersama-sama,? pungkasnya. ( Nyoman Subagi)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ngaben atau sering pula disebut upacara pelebon adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan di Bali, khususnya oleh umat yang beragama Hindu. Upacara tersebut dilakukan kepada orang yang telah meninggal dunia, hal tersebut dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena makna dari upacara ngaben itu sendiri adalah keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk di dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Seorang Pedanda atau pendeta mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Akan tetapi saat ini upacara Ngaben yang sudah menjadi tradisi masyarakat Bali itu sedikit demi sedikit mulai di abaikan dan ditingalkan terutama oleh masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh biaya pelaksanaan upacara Ngaben itu sendiri yang membutuhkan dana yang sangat besar. Untuk menghindari semakin ditinggalkannya tradisi upacara Ngaben oleh masyarakat, saat ini masyarakat Bali mulai mensiasatinya dalam pelaksanaannya misalnya saja dengan menciptakan suatu kompor khusus yang dapat digunakan untuk mengganti fungsi kayu bakar dalam Upacara Ngaben. Penggantian fungsi kayu bakar dengan kompor ini dirasa lebih efisien dan efektif. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Upacara Ngaben yang pelaksanaannya menggunakan kayu bakar.

Ngaben masal. Ngaben masal itu sendiri adalah salah satu cara yang digunakan oleh masyarakat Bali untuk menghemat biaya selain dengan mengganti penggunaan fungsi kayu bakar dengan kompor. Dengan Ngaben Masal itu sendiri selain biaya yang dikeluarkan lebih murah, pembakaran mayat pun lebih dapat cepat selesai. Upacara Ngaben Masal ini dirasa sangat meringankan masyarakat terutama masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah dibalik pelaksanaan upacara Ngaben / Ngaben massal terdapat tujuan?

2. Bagaimanakah tata cara pelaksanaan upacara Ngaben / Ngaben massal itu, apakah ada tata cara khusus dalam pelaksanaan upacara Ngaben tesebut?


BAB II

PEMBAHASAN

Upacara Ngaben Masal yang biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Bali adalah upacara pembakaran mayat yang ditujukan khususnya bagi masyarakat kelangan ekonomi menengah kebawah. Dengan diadakannya Ngaben masal yang biasanya dilaksanakan pada kurun waktu 1 tahun sekali, masyarakat Bali yang berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah dapat tetap melaksanakan upacara Ngaben yang sudah menjadi tradisi turun temurun di Bali. Dan hal ini akan menutup kemungkinan punahnya Upacara Ngaben. Upacara Ngaben masal ini memiliki tujuan untuk mempercepat proses pengembalian 5 unsur pembentuk badan kasar (jasmani-Red) atau Panca Maha Bhuta ke asalnya masing-masing yakni, tanah, api, air, udara dan zat lainnya (Eter). Selanjutnya, selain mempercepat proses pengembalian ke lima unsur yang ada pada manusia, umat Hindu juga percaya Upacara Ngaben dapat melepas ikatan sang jiwa (Atman-Red) terhadap badan kasar (jasmani) dengan harapan roh dapat mencapai alam surga berdasarkan perbuatan (Karma) selama hidupnya. Umat Hindu peraya dengan hukum karma pahala yaitu hasil perbuatan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya didunia. Kalau hasil perbuatannya baik, maka dia akan terlahir kembali dengan wujud manusia yang sempurna atau bahkan tidak lahir kembali kedunia dan menyatu kepada sang pencipta. Dalam ajaran agama Hindu mengenal tujuan tertinggi umat manusia berdasarkan kitab suci Weda bahwa manusia dalam kelahirannya untuk mencapai kebebasan tertinggi (Moksa) bersatu kembali kepada sang pencipta Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hari pelaksanaan Upacara Ngaben maupun Upacara Ngaben masal ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Upacara Ngaben ini biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Sebelum upacara Ngaben dimulai, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk melakukan penghormatan terakhir dan biasanya disajikan sekedar makan dan minum. Pada tengah hari, jasad dibersihkan atau yang biasa disebut “Nyiramin” oleh masyarakat dan keluarga, “Nyiramin” ini dipimpin oleh orang yang dianggap paling tua didalam masyarakat. Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali seperti layaknya orang yang masih hidup. Dan dibawa ke luar rumah untuk diletakkan di “Bade atau lembu” yang telah disiapkan oleh para warga, lalu diusung beramai-ramai, semarak, disertai suara gaduh gamelan dan “kidung suci” menuju ke tempat upacara. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat untuk pelaksanaan Ngaben. “Bade dan lembu” terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. Di depan Bade terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Kemudian bade diarak dan di setiap pertigaan atau perempatan bade akan diputar sebanyak 3 kali, dengan maksud agar roh orang yang meninggal itu menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarga yang bisa menyebabkan gangguan. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya. Sesampainya di kuburan, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat di “Lembu” yang telah disiapkan, diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci. Ini merupakan rangkaian upacara akhir bagi orang yang telah meninggal, kemudian keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga, setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia. Hal inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Tujuan upacara Ngaben masal adalah untuk mempercepat proses pengembalian 5 unsur pembentuk badan kasar ke asalnya masing-masing yaitu tanah, air, api, udara, dan zat lainnya.

2. Pelaksanaan Upacara Ngaben Masal dimulai dengan melakukan pembersihan jenazah dengan cara dimandikan air bersih yang dicampur dengan bunga-bunga. Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali, lalu ditempatkan pada Bade/Lembu kemudian setelah itu jenazah dibawa diarak menuju makam tempat pembakaran mayat setelah itu abu dari hasil pembakaran dihanyutkan ke laut/sungai yang dianggap suci.

3. Upacara Ngaben Masal merupakan solusi terbaik bagi masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah untuk tetap dapat melaksanakqan upacara Ngaben yang sudah menjadi suatu tradisi di Bali.

B. Saran

1. Sebaiknya Upacara Ngaben Masal yang di adakan di desa Balinuraga, kecamatan Waypanji lebih intens diadakan. Jangan hanya dalam jangka waktu 1 tahun sekali.

2. Upacara Ngaben harus tetap dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya dan tradisi oleh pemerintah Bali maupun oleh Negara sehingga kelak anak cucu kita dapat menikmatinya.

3. Pemerintah pusat seharusnya memberikan bantuan kepada masyarakat kalangan ekonomi mengengah kebawah untuk dapat melaksanakan Ngaben tanpa harus menunggu diadakannya Ngaben Masal. Karena belum tentu setiap tahun akan diadakan Ngaben Masal.

4. Ikatan keluarga di Bali yang sangat kuat seharusnya dapat dijadikan sebagai contoh kepada suku / masyarakat lain sehingga mereka akan selalu ingat dan menghargai leluhur mereka. Dengan ikatan keluarga yang kuat niscaya konflik akan dapat sedikit berkurang

5. Sikap masyarakat Bali yang selalu melaksanakan upacara Ngaben sebagai salah satu tradisi di Bali hendaknya dicontoh oleh masyarakat yang lain dalam melaksanakan tradisi adatnya agar tradisi tersebut tidak hilang dan punah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar